CATATAN UNTUK
“PEREMPUANKU”
M Rifal Hi Abdullah
“KAULAH PERMATA DALAM ALAM
DUNIAKU”
“Jika perkenalan adalah anugerah
tuhan, maka Aku bersyukur bisa mengenalmu.
Sebeb dengan mengenalmu, aku bisa
melukiskan jalan hidup ini”.
Sabtu,
17 November 2018.
Satu
persatu butiran air hujan berlomba-lomba
menyentu setiap benda yang ada di Bumi. Saat semuanya terlelap dalam
tidur, Aku beranjak memulai tulisan ini. Mungkin di Ternate sedang hujan, namun
mungkin Juga di pedalam Halmahera tidak merasakan hujan untuk malam ini. Dalam
pikiran ku terbentang ribuan kata, namun
aku bimbangan menggunakan kata-kata itu untuk ku tulis dalam lembaran tulisan
ku. Dengan sontak kuseruput secangkir kopi dan kunyalakan sebatang rokok,
dengan harapan aku mendapatkan bahan cerita malam ini.
Malam
itu pula para elit politik sibuk membangun basis demi memenangkan kepentingan
mereka pada Pemilihan Umum Tahun 2019 nanti. Momentum 2019 nanti, akan
menentukan keselamatan umat manusia, khususnya yang berada dinegri ini. Wacana
tentang politik praktis 2019 bukan hanya kelas atas yang mewacanankan akan
tetapi merayap hingga struktur lapisan sosial yang paling bawah, dari pusat Ibu
Kota hingga kepelosok-pelosok Desa, ramai mewacanakan persoalan ini.
Namun
ada wacana yang paling hangat, untuk
kalangan masyarakat Provinsi Maluku Utara yang Notabenenya sebagai Petani.
Merosotnya harga komoditi kopra dari harga Rp 9.000,00 per kilo menjadi Rp
2.000,00 perkilo membuat sejumlah petani mengeluh. Bahkan pada tanggal 14 November kemarin di Kabupaten
Halmahera Utara terjadi aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para
petani. Aksi yang dilakukan menuntut agar harga komoditi kopra dinaikan.
Namun semua itu hanyalah kesan-kesan bagiku,
yang sedang dilanda asmara. Ada sosok perempuan yang bergentayangan dalam
pikiran ku, sosok perempuan yang cantik, ceriwis, dan modern dengan dua lubang
lusung pipi di kedua areal pipinya. Aku tertegun sebentar saat mengenangan raut
wajah belia itu. Hati kecilku mengatakan; “sungguh cantik perempuan ini”. Aku
pun tersenyum setiap kali mengingatnya dalam pikiranku. Mungkin kecantikannya
tidak seperti bidadari yang sering di Dongenkan orang, mungkin juga tidak
secantik sang Dewi dalam cerita-cerita rakyat. Namun ada sedikit perbedaan,
bahwa bidadari dan Dewi hanyalah cerita fiksi belaka, sedangkan ia wanita cantik
yang hidup di dunia nyata.
Oktober
2017 kala dimana aku pertama berkenalan dengan perempuan itu, pukul 03; 21 saat
aku datang kekampus untuk berjumpa dengan kawan-kawanku. Tepat dibawah pohon
beringin yang berada didalam kampus, perempuan itu sedang asik-asiknya bercanda
dengan kawanku saat aku menghampiri mereka. Tanpa sungkan-sungkan akupun
berbaur bersama mereka, kala itu pula aku melihatnya tertawa untuk pertama
kalinya. Saat itu belum ada perasaan untuk aku menyukainya, hanya sekedar kagum
dengan kecantikan wajah dan parasnya, yang mungkin rasa kagum itu dimiliki juga
oleh orang- orang yang sejenis dengan ku saat bertemu wanita cantik seperti
dia.
Lama
berbincang, akhirnya kami pun berpindah tempat akibat dari turunnya hujan. Dia
pun berbarengan dengan kami untuk berteduh di samping Aula kampus. Percakapan
pun berlanjut kembali, saat itu pula aku dan berapa kawanku berkenalan
dengannya, seluruh kawanku sudah memberi tahukan nama mereka, Dia pun sudah
menyampaikan namanya dengan suara yang agak ayu keluar dari kedua bibirnya;
“Kita p nama Nu”. Saat itu pulah aku mengenal perempuan cantik itu. Dan
akhirnya aku pun memperkenalkan nama ku dengan suara agak keragu-raguan; “Kita
Ifal”. Suasana makin ramai saat perkenalan itu selesai. Sampai akhirnya Ia
pergi bersama temannya.
Lama
aku dan Nu sudah tidak saling menyapa, bahkan sudah tidak lagi duduk bercerita
dengan kawan-kawanku seperti hari itu. Ketika memasuki bulan November 2017,
kala aku sedang bermain media sosial (facebook), tiba-tiba beranda pertemananku
tertulis angka satu, tertanda ada yang meminta pertemanan denganku. Ketika ku
buka nama yang tertulis; “Nu Sadek Doa”. sebagai pemilik akun yang meminta
pertemanan dengan ku. Tanpa pikir panjang
aku pun menerima permintaan pertemanannya. Kembali kurasai ada
rasa suka terhadap dirinya, kita pun mulai saling bercanda, hingga akhirnya
berjalan beberapa hari aku pun sudah tak lagi berkomunikasi dengannya dalam media Social.
Komunikasi
antara aku dan dia hanya sebatas sapaan saat bertemu, namun hari itu, ketika ia
bersama dengan seorang temannya. Nama sapaan dari temannya; “ Tati”, nama yang
mirip dengan kaka kandungku yang kedua. Hari itu tepat dikampus, aku duduk
bersama mereka, lebih tepatnya aku duduk disampingnya dibatasi oleh ruang hampa
yang jaraknya sejingkal. Kami mulai bercerita, tiba-tiba datang teman-teman
kelasku mengacaukan dunia yang telah kami ciptakan, salah satu temanku yang
paling ceriwis; “maulida” sapaannya. Ia mengatakan kepadaku; “ini nga p cewe”,
kemudian pula kepada Nu; “Nu nga pacaran deng Dia ini”. Dengan serentak seluruh
teman-temanku mengolok-olok ku. Aku pun sempat tersipu malu, tapi aku coba
meyakinkan mereka dengan menyodorkan kata; “Kita deng Nu hanya tong baku
tamang”. Tapi mereka masi mengolok ku, majulah teman ku yang bernama “Ari”.
Tanpa basa-basi Ia pun menanyakan kepada Nu.; “nga Ifal p cewe”. Nu pun
langsung merespon dengan jawaban yang mirip dengan jawabanku;”ih.. tarada, kita
deng ifal hanya batamang saja”. Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya
yang mungil, akhirnya seluruh teman-temanku sudah tak lagi mengolok-olok kami.
Mereka pun beranjak masuk kedalam kelas dan mengajakku untuk masuk bersama
meraka. Aku pun beranjak pergi meninggalkan Nu dan juga Tati. Ketika hendak
meminta diri untuk pergi, kulihat wajah belia itu terpancar ekspresi kegugupan,
namun Nu mencoba menutupinya dengan bersikap tenang. Dengan senyuman kecil
akhirnya keluar pula kata dari dalam rongga mulutku; ”Nu, Tati. Kita masong
dulu e”. Keduanya berangguk secara bersamaan, tanda menyetujui aku untuk masuk.
Dan akhirnya pertemuan kita di akhiri dengan berbagai kiasan-kiasan kejadian
hari itu.
Semenjak
dari pertemuan itu, bentuk komunikasi antara aku dan Nu hanya sebatas sapaan,
namun terasa ada sesuatu yang terganjal dalam diriku. Entah!, apakah
bibit-bibit kasih sayang mulia tumbuh di atas tanah hati ini, ataukah hanya
sebatas pengagum kecantikan yang terlena oleh wajah belia sang Dewi kecantikan,
yang terpancar lewat senyum mungilnya. Mungkin Waktu yang menjadi tuhan untuk
menemukan jawaban dari persoaalan ini. Hingga memasuki pergantian tahun, dari
tahun 2017 ke tahun 2018, namun bibit rasa itu terus tumbuh dalam tanah hati
ini, walaupun masih ku pendam hingga kejadian hari itu yang membuat seluruh
ragaku bergetar. Kejadian yang tak seindah semua kisah di dunia ini, namun
memiliki makna yang hanya diriku seorang saja, yang bisa menafsirkannya dalam
pikiran, dan sekaligus menjadi sejarah indah diriku untuk hari ini dan semoga
untuk selama-lamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar