Selasa, 05 Februari 2019

Catatan Untuk PerempuanKu



CATATAN UNTUK
“PEREMPUANKU”








M Rifal Hi Abdullah










“KAULAH PERMATA DALAM ALAM DUNIAKU”





   




“Jika perkenalan adalah anugerah tuhan, maka Aku bersyukur bisa mengenalmu.
Sebeb dengan mengenalmu, aku bisa melukiskan jalan hidup ini”.


Sabtu,  17 November 2018.

Satu persatu butiran air hujan berlomba-lomba  menyentu setiap benda yang ada di Bumi. Saat semuanya terlelap dalam tidur, Aku beranjak memulai tulisan ini. Mungkin di Ternate sedang hujan, namun mungkin Juga di pedalam Halmahera tidak merasakan hujan untuk malam ini. Dalam pikiran ku terbentang ribuan kata,  namun aku bimbangan menggunakan kata-kata itu untuk ku tulis dalam lembaran tulisan ku. Dengan sontak kuseruput secangkir kopi dan kunyalakan sebatang rokok, dengan harapan aku mendapatkan bahan cerita malam ini.
Malam itu pula para elit politik sibuk membangun basis demi memenangkan kepentingan mereka pada Pemilihan Umum Tahun 2019 nanti. Momentum 2019 nanti, akan menentukan keselamatan umat manusia, khususnya yang berada dinegri ini. Wacana tentang politik praktis 2019 bukan hanya kelas atas yang mewacanankan akan tetapi merayap hingga struktur lapisan sosial yang paling bawah, dari pusat Ibu Kota hingga kepelosok-pelosok Desa, ramai mewacanakan persoalan ini.
Namun ada wacana yang paling hangat,  untuk kalangan masyarakat Provinsi Maluku Utara yang Notabenenya sebagai Petani. Merosotnya harga komoditi kopra dari harga Rp 9.000,00 per kilo menjadi Rp 2.000,00 perkilo membuat sejumlah petani mengeluh. Bahkan pada  tanggal 14 November kemarin di Kabupaten Halmahera Utara terjadi aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para petani. Aksi yang dilakukan menuntut agar harga komoditi kopra dinaikan.
 Namun semua itu hanyalah kesan-kesan bagiku, yang sedang dilanda asmara. Ada sosok perempuan yang bergentayangan dalam pikiran ku, sosok perempuan yang cantik, ceriwis, dan modern dengan dua lubang lusung pipi di kedua areal pipinya. Aku tertegun sebentar saat mengenangan raut wajah belia itu. Hati kecilku mengatakan; “sungguh cantik perempuan ini”. Aku pun tersenyum setiap kali mengingatnya dalam pikiranku. Mungkin kecantikannya tidak seperti bidadari yang sering di Dongenkan orang, mungkin juga tidak secantik sang Dewi dalam cerita-cerita rakyat. Namun ada sedikit perbedaan, bahwa bidadari dan Dewi hanyalah cerita fiksi belaka, sedangkan ia wanita cantik yang hidup di dunia nyata.
Oktober 2017 kala dimana aku pertama berkenalan dengan perempuan itu, pukul 03; 21 saat aku datang kekampus untuk berjumpa dengan kawan-kawanku. Tepat dibawah pohon beringin yang berada didalam kampus, perempuan itu sedang asik-asiknya bercanda dengan kawanku saat aku menghampiri mereka. Tanpa sungkan-sungkan akupun berbaur bersama mereka, kala itu pula aku melihatnya tertawa untuk pertama kalinya. Saat itu belum ada perasaan untuk aku menyukainya, hanya sekedar kagum dengan kecantikan wajah dan parasnya, yang mungkin rasa kagum itu dimiliki juga oleh orang- orang yang sejenis dengan ku saat bertemu wanita cantik seperti dia.
Lama berbincang, akhirnya kami pun berpindah tempat akibat dari turunnya hujan. Dia pun berbarengan dengan kami untuk berteduh di samping Aula kampus. Percakapan pun berlanjut kembali, saat itu pula aku dan berapa kawanku berkenalan dengannya, seluruh kawanku sudah memberi tahukan nama mereka, Dia pun sudah menyampaikan namanya dengan suara yang agak ayu keluar dari kedua bibirnya; “Kita p nama Nu”. Saat itu pulah aku mengenal perempuan cantik itu. Dan akhirnya aku pun memperkenalkan nama ku dengan suara agak keragu-raguan; “Kita Ifal”. Suasana makin ramai saat perkenalan itu selesai. Sampai akhirnya Ia pergi bersama temannya.
Lama aku dan Nu sudah tidak saling menyapa, bahkan sudah tidak lagi duduk bercerita dengan kawan-kawanku seperti hari itu. Ketika memasuki bulan November 2017, kala aku sedang bermain media sosial (facebook), tiba-tiba beranda pertemananku tertulis angka satu, tertanda ada yang meminta pertemanan denganku. Ketika ku buka nama yang tertulis; “Nu Sadek Doa”. sebagai pemilik akun yang meminta pertemanan dengan ku. Tanpa pikir panjang  aku  pun menerima  permintaan pertemanannya. Kembali kurasai ada rasa suka terhadap dirinya, kita pun mulai saling bercanda, hingga akhirnya berjalan beberapa hari aku pun sudah tak lagi berkomunikasi dengannya dalam  media Social.
Komunikasi antara aku dan dia hanya sebatas sapaan saat bertemu, namun hari itu, ketika ia bersama dengan seorang temannya. Nama sapaan dari temannya; “ Tati”, nama yang mirip dengan kaka kandungku yang kedua. Hari itu tepat dikampus, aku duduk bersama mereka, lebih tepatnya aku duduk disampingnya dibatasi oleh ruang hampa yang jaraknya sejingkal. Kami mulai bercerita, tiba-tiba datang teman-teman kelasku mengacaukan dunia yang telah kami ciptakan, salah satu temanku yang paling ceriwis; “maulida” sapaannya. Ia mengatakan kepadaku; “ini nga p cewe”, kemudian pula kepada Nu; “Nu nga pacaran deng Dia ini”. Dengan serentak seluruh teman-temanku mengolok-olok ku. Aku pun sempat tersipu malu, tapi aku coba meyakinkan mereka dengan menyodorkan kata; “Kita deng Nu hanya tong baku tamang”. Tapi mereka masi mengolok ku, majulah teman ku yang bernama “Ari”. Tanpa basa-basi Ia pun menanyakan kepada Nu.; “nga Ifal p cewe”. Nu pun langsung merespon dengan jawaban yang mirip dengan jawabanku;”ih.. tarada, kita deng ifal hanya batamang saja”. Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya yang mungil, akhirnya seluruh teman-temanku sudah tak lagi mengolok-olok kami. Mereka pun beranjak masuk kedalam kelas dan mengajakku untuk masuk bersama meraka. Aku pun beranjak pergi meninggalkan Nu dan juga Tati. Ketika hendak meminta diri untuk pergi, kulihat wajah belia itu terpancar ekspresi kegugupan, namun Nu mencoba menutupinya dengan bersikap tenang. Dengan senyuman kecil akhirnya keluar pula kata dari dalam rongga mulutku; ”Nu, Tati. Kita masong dulu e”. Keduanya berangguk secara bersamaan, tanda menyetujui aku untuk masuk. Dan akhirnya pertemuan kita di akhiri dengan berbagai kiasan-kiasan kejadian hari itu.
Semenjak dari pertemuan itu, bentuk komunikasi antara aku dan Nu hanya sebatas sapaan, namun terasa ada sesuatu yang terganjal dalam diriku. Entah!, apakah bibit-bibit kasih sayang mulia tumbuh di atas tanah hati ini, ataukah hanya sebatas pengagum kecantikan yang terlena oleh wajah belia sang Dewi kecantikan, yang terpancar lewat senyum mungilnya. Mungkin Waktu yang menjadi tuhan untuk menemukan jawaban dari persoaalan ini. Hingga memasuki pergantian tahun, dari tahun 2017 ke tahun 2018, namun bibit rasa itu terus tumbuh dalam tanah hati ini, walaupun masih ku pendam hingga kejadian hari itu yang membuat seluruh ragaku bergetar. Kejadian yang tak seindah semua kisah di dunia ini, namun memiliki makna yang hanya diriku seorang saja, yang bisa menafsirkannya dalam pikiran, dan sekaligus menjadi sejarah indah diriku untuk hari ini dan semoga untuk selama-lamanya.